KEBENARAN
Makalah
Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Filsafat Ilmu
DI SUSUN OLEH
HADIJAH
NPM :
100201 6703
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
GAJAH PUTIH TAKENGON
2011
KATA PENGANTAR
Asalamualaikum Wr. Wb
Pujisyukur
penulis ucapkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayahnya
sehingga banyak hal-hal yang penuh manfaat yang masih dapat kita lakukan
bersama. Shalawat beriringan salam
penulis kirimkan ke hadirat nabi Muhammad SAW yang telah begitu berjasa membawa
kita sekalian kealam islami dan penuh dengan ilmu pengetahuan.
Terimakasih
yang sebesar-besarnya penulis ucapkan untuk seluruh pihak yang telah membantu penyelesaian
makalah ini, terutama kepada dosen pengampu mata kuliah yang bersangkutan.
Makalah ini disusun demi memenuhi tugas mata kuliah filsafat ilmu dengan
harapan nantinya dapat bermanfaat bagi para pembaca dan teman-teman semuanya.
Penulis
sadar dalam pembuatan makalah ini tentu terdapat kekurangan maupun kesilapan
baik secara sengaja ataupun tanpa sengaja. Oleh sebab itu saran dan kritik dari
pembaca sangat membantu penyempurnaan makalah ini dikemudian hari. Semoga
makalah ini akan menambah ilmu pengetahuan bagi para pembaca dan terimakasih
atas segala perhatianya.
Wasalamualaikum Wr. Wb 04 April 2012
Penulis
DAFTAR ISI
Kata pengantar.......................................................................................................
Daftar isi............................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN.............................................................................................
BAB II
PEMBAHASAN...............................................................................................
A.PENEMUAN KEBENARAN.......................................................................
B.DEFINISI KEBENARAN.............................................................................
C.JENIS-JENIS KEBENARAN.......................................................................
D.SIFAT KEBENARAN.................................................................................
E.TEORI KEBENARAN..................................................................................
BAB III
PENUTUP........................................................................................................
Daftar Pustaka...................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG MASALAH
Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara
ditempuh untuk memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio
seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris.
Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang
lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat
dimengerti. Ilmu pengetahuan harus dibedakan dari fenomena alam. Fenomena alam
adalah fakta, kenyataan yang tunduk pada instrumen-hukum yang menyebabkan
fenomena itu muncul. Ilmu pengetahuan adalah formulasi hasil aproksimasi atas
fenomena alam atau simplifikasi atas fenomena tersebut.
Pendidikan pada umumnya dan ilmu pengetahuan pada khususnya
mengemban tugas utama untuk menemukan, pengembangan, menjelaskan, menyampaikan
nilai-nilai kebenaran. Semua orang yang berhasrat untuk mencintai kebenaran,
bertindak sesuai dengan kebenaran. Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam
kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia.
Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu
berusaha “memeluk” suatu kebenaran. Kebenaran sebagai ruang lingkup dan obyek Instrumen
manusia sudah lama menjadi penyelidikan manusia. Manusia sepanjang sejarah kebudayaannya
menyelidiki secara terus menerus apakah hakekat kebenaran itu.
Jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya
terdorong pula untuk melaksanakan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan
pemahaman tentang kebenaran, tanpa melaksanakan kebenaran tersebut manusia akan
mengalami pertentangan batin, konflik spikologis. Menurut para ahli filsafat
itu bertingkat-tingkat bahkan tingkat-tingkat tersebut bersifat hirarkhis.
Kebenaran yang satu di bawah kebenaran yang lain tingkatan kualitasnya ada
kebenaran instrumen, ada kebenaran mutlak (instrumen). Ada kebenaran alami dan ada pula kebenaran
illahi, ada kebenaran khusus individual, ada pula kebenaran umum universal.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENEMUAN
KEBENARAN
Cara untuk menemukan
kebenaran berbeda-beda. Dari berbagai cara untuk menemukan kebenaran dapat
dilihat cara yang ilmiah dan nonilmiah. Cara-cara untuk menemukan kebenaran
sebagaimana diuraikan oleh Hartono Kasamadi, dkk, (1990) sebagai berikut:
a. Penemuan
Secara Kebetulan
Penemuan
kebenaran secara kebetulan adalah penemuan yang berlangsung tanpa disengaja.
Dalam sejarah manusia, penemuan secara kebetulan itu banyak juga yang berguna
walaupun terjadinya tidak dengan cara yang ilmiah, tidak disengaja dan tanpa
rencana. Cara ini tidak dapat diterima dalam metode keilmuan untuk menggali
pengetahuan atau ilmu.
b. Penemuan
“Coba dan Ralat” (Trial Dan Error)
Penemuan
coba dan ralat terjadi tanpa adanya kepastian akan berhasil atau tidak berhasil
kebenaran yang dicari. Memang ada aktifitas mencari kebenaran, tetapi aktifitas
itu mengandung unsure spekulatif atau
“untung-untungan”. Penemuan dengan cara ini kerap kali memerlukan waktu yang
lama, karena memang tanpa rencana, tidak terarah, dan tidak diketahui tujuanya.
Cara coba dan ralat inipun tidak dapat diterima sebagai cara ilmiah dalam usaha
untuk mengungkapkan kebenaran.
c. Penemuan
melalui Otoritas atau Kewibawaan
Pendapat
orang-orang yang memiliki kewibawaan, misalnya orang-orang yang mempunyai
kedudukan dan kekuasaan sering diterima sebagai kebenaran meskipun pendapat itu
tidak didasarkan kepada pembuktian ilmiah. Pendapat itu tidak berarti tidak ada
gunanya. Pendapat itu tetap berguna, terutama dalam merangsang usaha penemuan
baru bagi orang-orang yang menyangsikanya. Namun demikian adakalanya pendapat
itu ternyata tidak dapat dibuktikan kebenaranya. Dengan demikian pendapat
pemegang otoritas itu bukanlah pendapat yang berasal dari penelitian, melainkan
hanya berdasarkan pemikiran.[1]
d. Penemuan
secara spekulatif
Cara
ini mirip dengan cara coba dan ralat. Akan tetapi, perbedaanya dengan coba dan
ralat memang ada. Seseorang yang menghadapi suatu masalah yang harus dipecahkan
pada penemuan secara spekulatif, mungkin sekali ia membuat sejumlah alternative
pemecahan. Kemudian ia mungkin memilih satu instrumen pemecahan, sekalipun ia tidak yakin mengenai
pemecahanya.
e. Penemuan
Kebenaran Lewat Cara Berpikir kritis dan Rasional
Telah
banyak kebenaran yang dicapai oleh manusia sebagai hasil upayanya menggunakan
kemampuan berpikirnya. Dalam menghadapi masalah, manusia berusaha
menganalisisnya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki untuk
sampai pada pemecahan yang tepat. Cara berpikir yang ditempuh pada tingkat
permulaan dalam memecahkan masalah adalah dengan cara berpikir analitis dan
cara berpikir sintetis.
f.
Penemuan Kebenaran Melalui Penelitian Ilmiah
Cara
mencari kebenaran yang dipandang ilmiah ialah yang dilakukan melalui
penelitian. Penelitian adalah penyaluran hasrat ingin tahu pada manusia dalam
taraf keilmuan. Penyaluran sampai pada taraf setinggi ini disertai oleh
keyakinan bahwa ada sebab bagi setiap akibat, dan bahwa setiap gejala yang
tampak dapat dicari penjelasanya secara ilmiah. Pada setiap penelitian ilmiah
melekat cirri-ciri umum, yaitu pelaksanaanya yang metodis harus mencapai suatu kesseluruhan yang logis dan
koheren. Cirri lainya adalah
universalis. Setiap penelitian ilmiah harus objektif, artinya terpimpim oleh objek dan tidak mengalami distorsi karena
adanya berbagai prasangka subjektif.[2]
B. DEFINISI
KEBENARAN
Kebenaran adalah satu nilai utama di
dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia.
Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu
berusaha “memeluk” suatu kebenaran. Berdasarkan scope potensi subjek, maka
susunan tingkatan kebenaran itu menjadi :
1. Tingkatan kebenaran indera adalah
tingakatan yang paling sederhanan dan pertama yang dialami manusia
2.
Tingkatan
ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah
pula dengan rasio
3.
Tingkat
filosofis, rasio dan instrumen murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran
itu semakin tinggi nilainya
4.
Tingkatan
instrumen, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan
dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.
Manusia selalu
mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya
terdorong pula untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan
pemahaman tentang kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia akan
mengalami pertentangan batin, konflik spilogis. Karena di dalam kehidupan
manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup
yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan
dalam hidupnya yang dimana selalu ditunjukan oleh kebenaran. Hal kebenaran
sesungguhnya merupakan tema sentral di dalam filsafat ilmu. Secara umum orang
merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran. Problematik
mengenai kebenaran merupakan masalah yang mengacu pada tumbuh dan berkembangnya
dalam filsafat ilmu.
Dalam kamus umum Bahasa Indonesia
(oleh Purwadarminta), ditemukan arti kebenaran, yaitu:
a. Keadaan yang benar (cocok dengan hal atau keadaan sesungguhnya);
b. Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada, betul demikian halnya);
c. kejujuran, ketulusan hati;
e. Selalu izin, perkenanan;
f. Jalan kebetulan
a. Keadaan yang benar (cocok dengan hal atau keadaan sesungguhnya);
b. Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada, betul demikian halnya);
c. kejujuran, ketulusan hati;
e. Selalu izin, perkenanan;
f. Jalan kebetulan
C.
JENIS-JENIS
KEBENARAN
Kebenaran dapat dibagi dalam tiga
jenis menurut telaah dalam filsafat ilmu, yaitu:
a.
Kebenaran
Epistemologikal, adalah kebenaran dalam hubungannya dengan pengetahuan manusia,
b.
Kebenaran
Ontologikal, adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat kepada segala
sesuatu yang ada maupun diadakan.
c.
Kebenaran
Semantikal, adalah kebenaran yang terdapat serta melekat di dalam tutur kata
dan bahasa.
D.
SIFAT KEBENARAN
Karena kebenaran tidak dapat begitu saja
terlepas dari kualitas, sifat, hubungan, dan nilai itu sendiri, maka setiap
subjek yang memiliki pengetahuan akan memiliki persepsi dan pengertian yang
amat berbeda satu dengan yang lainnya, dan disitu terlihat sifat-sifat dari
kebenaran. Sifat kebenaran dapat dibedakan menjadi tiga hal, yaitu:
1.
Kebenaran
berkaitan dengan kualitas pengetahuan, dimana setiap pengetahuan yang dimiliki
ditilik dari jenis pengetahuan yang dibangun.
Pengetahuan itu berupa:
Pengetahuan itu berupa:
a.
Pengetahuan biasa atau disebut ordinary
knowledge atau common sense knowledge. Pengetahuan seperti ini memiliki inti
kebenaran yang sifatnya subjektif, artinya amat terikat pada subjek yang mengenal.
b.
Pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang
telah menetapkan objek yang khas atau spesifik dengan menerapkan metodologi
yang telah mendapatkan kesepakatan para ahli sejenis. Kebenaran dalam
pengetahuan ilmiah selalu mengalami pembaharuan sesuai dengan hasil penelitian
yang penemuan mutakhir.
c.
Pengetahuan filsafat, yaitu jenis pengetahuan
yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafat, bersifat mendasar dan
menyeluruh dengan model pemikiran analitis, kritis, dan spekulatif. Sifat
kebenaran yang terkandung adalah absolute-intersubjektif.
d.
Kebenaran
pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan agama. Pengetahuan agama bersifat
dogmatis yang selalu dihampiri oleh keyakinan yang telah tertentu sehingga
pernyataan dalam kitab suci agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan
keyakinan yang digunakan untuk memahaminya.
2.
Kebenaran
dikaitkan dengan sifat atau karakteristik
dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang
membangun pengetahuannya.
Implikasi dari
penggunaan alat untuk memperoleh pengetahuan akanmengakibatkan karakteristik
kebenaran yang dikandung oleh pengetahuan akan memiliki cara tertentu untuk
membuktikannya. Jadi jika membangun pengetahuan melalui indera atau sense
experience, maka pembuktiannya harus melalui indera pula.
3. Kebenaran dikaitkan atas
ketergantungan terjadinya pengetahuan.
Membangun pengetahuan tergantung dari hubungan antara subjek dan objek, mana yang dominan. Jika subjek yang berperan, maka jenis pengetahuan ini mengandung nilai kebenaran yang bersifat subjektif. Sebaliknya, jika objek yang berperan, maka jenis pengetahuannya mengandung nilai kebenaran yang sifatnya objektif.
Membangun pengetahuan tergantung dari hubungan antara subjek dan objek, mana yang dominan. Jika subjek yang berperan, maka jenis pengetahuan ini mengandung nilai kebenaran yang bersifat subjektif. Sebaliknya, jika objek yang berperan, maka jenis pengetahuannya mengandung nilai kebenaran yang sifatnya objektif.
Kebenaran dapat digunakan
sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak. Adapun kebenaran
dapat berkaitan dengan :
1. Kualitas pengetahuan
Artinya bahwa
setiap pengetahuan dimiliki seseorang yang mengetahui suatu obyek ditinjau dari
pengetahuan yang dibangun. Pengetahuan tersebut berupa :
a.
Pengetahuan
biasa yang sifatnya subyektif
b.
Pengetahuan
ilmiah yang bersifat instrument
c.
Pengetahuan
filasafati yang sifatnya instrumen-intersubyektif
d.
Pengetahuan agama yang bersifat instrument
2. Karakteristik cara membangun pengetahuan:
a.
Penginderaan/
sense experience
b.
Akal instrumen/ ratio/ intuisi
c.
Keyakinan
3.
Jenis
pengetahuan menurut instrumen karakteristik:
a. Pengetahuan indrawi
b. Pengetahuan akal budi
c. Pengetahuan intuitif
d. Pengetahuan kepercayaan/ pengetahuan otoritatif
e. Pengetahuan lain-lain
a. Pengetahuan indrawi
b. Pengetahuan akal budi
c. Pengetahuan intuitif
d. Pengetahuan kepercayaan/ pengetahuan otoritatif
e. Pengetahuan lain-lain
4.
Ketergantungan terjadinya pengetahuan, yang
artinya bagaimana hubungan subjek dan objek. Bila yang dominan subjek maka
sifatnya subjektif, sebaliknya bila yang dominan objek maka sifatnya objektif.[3]
E.
TEORI KEBENARAN
Ilmu pengetahuan terkait erat dengan
pencarian kebenaran, yakni kebenaran ilmiah. Ada banyak yang termasuk pengetahuan manusia,
namun tidk semua hal itu langsung kita golongkan sebagai ilmu pengetahuan.
Hanya pengetahuan tertentu, yang diperoleh dari kegiatan ilmiah, dengan metode
yang sistematis, melalui penelitian, analisis dan pengujian data secara ilmiah,
yang dapat kita sebut sebagai ilmu pengetahuan. Dalam sejarah filsafat,
terdapat beberapa teori tentang kebenaran, yakni:
1. Teori Koresondensi / Teori
Persesuaian (The Correspondence theory of truth)
Teori ini sampai tingkat tertentu
sudah dimunculkan Aristoteles, mengatakan hal yang ada sebagai tidak ada, atau
yang tidak ada sebagai ada, adalah salah. Sebaliknya, mengatakan yang ada
sebagai ada, atau yang tidak ada sebagai tidak ada, adalah benar. Dengan ini
Aristoteles sudah meletakkan dasar bagi teori kebenaran sebagai persesuaian
bahwa kebenaran adalah persesuaian antara apa yang dikatakan dengan kenyataan.
Jadi suatau pernyataan dianggap benar jika apa yang dinyatakan memiliki
keterkaitan (correspondence) dengan kenyataan yang diungkapkan dalam pernyataan
itu. Menurut teori ini, kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang
diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah
adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana
adanya. Atau dapat pula dikatakan bahwa kebenaran terletak pada kesesuaian
antara subjek dan objek, yaitu apa yang diketahui subjek dan realitas
sebagaimana adanya. Kebenaran sebagai persesuaian juga disebut sebagai
kebenaran empiris, karena kebenaran suatu pernyataan proposisi, atau teori, ditentukan
oleh apakah pernyataan, proposisi atau teori didukung fakta atau tidak. Suatu
ide, konsep, atau teori yang benar, harus mengungkapkan relaitas yang
sebenarnya. Kebenaran terjadi pada pengetahuan. Pengetahuan terbukti benar dan
menjadi benar oleh kenyataan yang sesuai dengan apa yang diungkapkan
pengetahuan itu. Oleh karena itu, bagi teori ini, mengungkapkan realitas adalah
hal yang pokok bagi kegiatan ilmiah. Dalam mengungkapkan realitas itu,
kebenaran akan muncul dengan sendirinya ketika apa yang dinyatakan sebagai
benar memang sesuai dengan kenyataan. . Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan
dengan fakta, yang berselaran dengan realitas yang serasi dengan sitasi instrumen.
Dengan demikian ada lima instrumen
yang perlu yaitu :
a. Statemaent (pernyataan)
b. Persesuaian (instrumen)
c. Situasi (situation)
d. Kenyataan (realitas)
e. Putusan (judgements)
b. Persesuaian (instrumen)
c. Situasi (situation)
d. Kenyataan (realitas)
e. Putusan (judgements)
2.
Teori Konsistensi atau Teori Koherensi (The Coherence Theory of Truth)
Jika teori
kebenaran sebagai persesuaian dianut oleh kaum empiris, maka teori yang kedua
ini, yaitu teori kebenaran sebagai keteguhan, dianut oleh kaum rasionalis
seperti Leibniz, Benedictus Spinoza, Descartes, George Hegel, dlsb.
Menurut teori ini,
kebenaran tidak ditemukan dalam kesesuaian antara proposisin dengan
kenyataanmelainkan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang
sudah ada. Maka suatu pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi, atau hipotesis
dianggap benar jika proposisi itu meneguhkan dan konsisten dengan proposisi
sebelumnya yang dianggap benar. Bagi kaum rasionalis, pengetahuan tidak mungkin
instrumen keluar dari pikiran atau akal budi manusia untuk berhadapan langsung
dengan realitas, dan dari situ instrumen diketahui apakah pengetahuan itu benar
atau tidak.Matematika dan ilmu-ilmu pasti lainnya sangat menekankan teori ini.
Menurut para
penganut teori ini, mengatakan bahwa suatu pernyataan atau proposisi benar atau
salah, adalah mengatakan bahwa proposisi itu berkaitan dan meneguhkan proposisi
atau pernyataan yang lain atau tidak. Dengan kata lain, pernyataan itu benar
jika pernyataan itu cocok dengan instrumen pemikiran yang ada. Maka kebenaran
sesunguhnya hanya berkaitan dengan implikasi logis dari instrumen pemikiran
yang ada. Misalnya: (1) Semua manusia pasti mati; (2) Sokrates adalah manusia;
(3) Sokrates pasti mati.
3.
Teori Pragmatisme (The Pragmatic Theory of Truth)
Teori pragmatis
tentang kebenaran ini dikembangkan dan dianut oleh para pilosof pragmatis dari
Amerika seperti Charles Sanders Pierce dan William James. Bagikaum pragmatis,
kebenaran sama artinya dengan kegunaan. Jadi, ide, konsep, pernyataan, atau
hipotesis yang benar adalah ide yang berguna. Ide yang benar adalah ide yang
paling mampu memungkinkan seseorang—berdasarkan ide itu—melakukan sesuatu
secara paling berhasil dan tepat guna. Dengan kata lain, berhasil dan berguna
adalah instrumen utama untuk menentukan apakah suatu ide benar atau tidak.
Contohnya, ide bahwa kemacetan di jalan-jalan besar di Jakarta disebabkan terlalu banyak kendaraan
pribadi yang ditumpangi satu orang. Maka, konsep solusinya, “wajibkan kendaraan
pribadi ditumpangi minimal oleh tiga penumpang”. Ide tersebut benar jika ide
itu berguna atau berhasil memecahkan persoalan kemacetan.
Piecre mengatakan
bahwa ide yang jelas dan benar mau tidak mau mempunyai konsekuensi praktis pada
tindakan tertentu. Artinya, jika ide itu benar, maka ketika diterapkan akan
berguna dan berhasil untuk memecahkan suatu persoalan dan menentukan perilaku
manusia. William James mengembangkan teori pragmatisnya dengan berangkat dari
pemikirannya tentang “berpikir”. Menurutnya, fungsi dari berpikir bukan untuk
menangkap kenyataan tertentu, melainkan untuk membentuk ide tertentu demi
memuaskan kebutuhan atau kepentingan manusia. Oleh karena itu, pernyataan
penting bagi James adalah jika suatu ide diangap benar, apa perbedaan praktis
yang akan timbul dari ide ini dibandingkan dengan ide yang tidak benar. Apa
konsekuensi praktis yang berbeda dari ide yang benar dibandingkan dengan ide
yang keliru. Menurut William James, instrumen teori yang benar adalah instrumen
teori yang berguna dan berfungsi memenuhi tuntutan dan kebutuhan kita.
Sebaliknya, ide yang salah, adalah ide yang tidak berguna atau tidak berfungsi
membanu kita memenuhi kebutuhan kita.
Dengan demikian
bagi William James, ide yang benar adalah ide yang dalam penerapannya paling
berguna dan paling behasil memungkinkan manusia bertindak atau melakukan
sesuatu. Artinya, jika ide tertentu itu benar, maka ide itu akan berguna dan
berhasil membantu manusia untuk bertindak secara tertentu. Maka kebenaran, sama
dengan berguna atau kebergunaan. Ide yang berguna lalu berarti ide yang benar
dan sebaliknya. Ini berarti pula, suatu ide yang benar akan memungkinkan kita
dan menuntun kita untuk sampai pada kbenaran, atau memungkinkan kita untuk
sampai pada apa yang diklaim dalam instrumen pernyataan tersebut. Contohnya,
ide tentang kinerja sebagai berbanding lurus dengan reward atau appraisal. Ide
ini benar jika naiknya jaminan bagi pekerja ternyata meningkatkan kinerja atau
produktifitas pekerja. Benar, dengan demikian, sama artinya dengan berfungsi,
berlaku.
Ide yang benar
adalah ide yang berfungsi dan berlaku membantu manusia bertindak secara
tertentu secara berhasil. Maka menurut Jhon Dewey dan William James, ide yang
benar sesungguhnya adalah instrumen untuk bertindak secara berhasil. Kebenaran
yang terutama ditekankan oleh kaum pragmatis ini adalah kebenaran yang
menyangkut “pengetahuan bagaimana” (know-how). Suatu ide yang benar adalah ide
yang memungkinkan saya berhasil memperbaiki atau menciptakan sesuatu. Dalam hal
ini, kaum pragmatis sesungguhnya tidak menolak teori kebenaran dari kaum
rasionalis maupun teori kebenaran kaum empiris. Hanya saja, bagi mereka suatu
kebenaran apriori hanya benar bila kalau kebenaran itu berguna dalam
penerapannya yang memunginkan manusia bertindak secara efektif. Demikian pula,
tolok ukur kebenaran suatu ide bukanlah realitas statis, melainkan realitas
tindakan. Jadi, keseluruhan kenyataan yang memperlihatkan kebergunaan ide
tersebut.
4.
Kebenaran
Religius atau teori kebenaran performatif (The Performative Theory of Thruth)
Teori ini terutama
dianut oleh filsuf seperti Frank Ramsey, Jhon Austin, dan Peter Strawson.
Filsuf-filsuf ini mau menentang teori klasik bahwa “benar” dan “salah” adalah
ungkapan yang hanya menyatakan sesuatu (deskriptif). Proposisi yang benar
berarti proposisi itu menyatakan sesuatu yang memang dianggap benar. Demikian
sebaliknya. Namun justeru inilah yang ingin ditolak oleh para filsuf ini.
Menurut teori ini,
suatu pernyataan dianggap benar jika ia menciptakan realitas. Jadi pernyataan
yang benar bukanlah pernyataan yang mengungkapkan realitas, tetapijusteru
dengan pernyataan itu tercipta realitas sebagaimana yang diungkapkan dalam
pernyataan itu. Misalnya, “Dengan ini saya mengangkat anda sebagai manager
perusahaan TX”. Dengan pernyataan itu tercipta sebuah realitas baru yaitu anda
sebagai manager perusahaan TX.
Kebenaran adalah
kesan subjek tentang suatu realita, dan perbandingan antara kesan dengan
realita objek. Jika keduanya ada persesuaian, persamaan maka itu benar. Kebenaran
tak cukup hanya diukur dengan rasion dan kemauan individu. Kebenaran bersifat
objective, universal,berlaku bagi seluruh umat manusia, karena kebenaran ini
secara antalogis dan oxiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui
wahyu. Nilai kebenaran mutlak yang
bersumber dari Tuhan itu adalah objektif namun bersifat superrasional dan
superindividual. Bahkan bagi kaum instrumen kebenarn aillahi ini adalah kebenaran
tertinggi.
5. Teori Kebenaran Konsensus
Suatu teori dinyatakan
benar jika teori itu berdasarkan pada instrumen atau perspektif tertentu dan
ada komunitas ilmuwan yang mengakui atau mendukung instrumen tersebut. Banyak
sejarawan dan filosof sains masa kini menekankan bahwa serangkaian fenomena
atau realitas yang dipilih untuk dipelajari oleh kelompok ilmiah tertentu
ditentukan oleh pandangan tertentu tentang realitas yang telah diterima secara
apriori oleh kelompok tersebut. Pandangan apriori ini disebut instrumen oleh
Kuhn dan world view oleh Sardar. Paradigma ialah apa yang dimiliki bersama oleh
anggota-anggota suatu masyarakat sains atau dengan kata lain masyarakat sains
adalah orang-orang yang memiliki suatu instrumen bersama.
Masyarakat sains
mencapai instrumen yang kokoh karena adanya instrumen. Pengujian suatu instrumen terjadi setelah adanya kegagalan
berlarut-larut dalam memecahkan masalah yang menimbulkan krisis. Falsifikasi
terhadap sesuatu akan menyebabkan suatu teori yang telah mapan ditolak karena
hasilnya instrume. Teori baru yang memenangkan kompetisi akan mengalami
verifikasi . Proses verifikasi-falsifikasi memiliki kebaikan yang sangat mirip
dengan kebenaran dan memungkinkan adanya penjelasan tentang kesesuaian atau
ketidaksesuaian antara fakta dan teori.[4]
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Bahwa kebenaran itu sangat ditentukan oleh potensi subyek
kemudian pula tingkatan validitas. Kebenaran ditentukan oleh potensi subyek
yang berperanan di dalam penghayatan atas sesuatu itu. Bahwa kebenaran itu
adalah perwujudan dari pemahaman (comprehension) subjek tentang sesuatu
terutama yang bersumber dari sesuatu yang diluar subyek itu realita, perisitwa,
nilai-nilai (norma dan hukum) yang bersifat umum. Bahwa kebenaran itu ada yang
relatif terbatas, ada pula yang umum. Bahkan ada pula yang mutlak, abadi dan
universal. Wujud kebenaran itu ada yang berupa penghayatan lahiriah, jasmaniah,
indera, ada yang berupa ide-ide yang merupkan pemahaman potensi subjek
(mental,r asio, intelektual). Bahwa substansi kebenaran adalah di dalam
antaraksi kepribadian manusia dengan alam semesta. Tingkat wujud kebenaran
ditentukan oleh potensi subjek yang menjangkaunya. Semua teori kebenaran itu
ada dan dipraktekkan manusia di dalam kehidupan nyata. Yang mana masing-masing
mempunyai nilai di dalam kehidupan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar